LATIHAN Gempa Statik Ekivalen


analisisi-beban-gempa-statik-lateral

MENGGUNAKAN SAP 2000 UNTUK MELAKUKAN

ANALISIS STATIK EKIVALEN

Pendahuluan

Analisis statik ekivalen merupakan salah satu metode menganalisis struktur gedung terhadap pembebanan gempa dengan menggunakan beban gempa nominal statik ekivalen. Menurut Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI – 1726 – 2002), analisis statik ekivalen cukup dapat dilakukan pada gedung yang memiliki struktur beraturan. Ketentuan-ketentuan mengenai struktur gedung beraturan disebutkan dalam pasal 4.2.1 dari SNI – 1726 – 2002.

Apabila  gedung memiliki struktur yang tidak beraturan maka selain dilakukan analisis statik ekivalen juga diperlukan analisis lebih lanjut, yaitu analisis respon dinamik. Perhitungan respon dinamik struktur gedung tidak beraturan terhadap pembebanan gempa, dapat menggunakan metode analisis ragam spektrum respons atau metode analisis respons dinamik riwayat waktu. Pada pasal 7.1.3 dari SNI – 1726 – 2002, bila nilai akhir respon dinamik tersebut dinyatakan dalam gaya geser dasar nominal, maka nilainya tidak boleh kurang dari 80% gaya geser dasar yang dihasilkan dari analisis statik ekivalen.

Karena analisis statik ekivalen dipandang merupakan langkah awal dalam perencanaan gedung tahan gempa, pada tulisan ini akan dibahas mengenai penggunaan software SAP 2000 versi 7.42 untuk membantu melakukan analisis statik ekivalen.

Beban Gempa Nominal Statik Ekivalen yang ditetapkan SNI – 1726 – 2002.

Beban geser dasar nominal statik ekivalen V (base shear) yang tejadi di tingkat dasar dapat dihitung menurut persamaan:

(1)

dimana; C1 adalah nilai faktor respons gempa yang didapat dari Spektrum Respons Gempa Rencana, I adalah faktor keutamaan, R adalah faktor reduksi gempa, dan Wt adalah berat total gedung. Untuk memperoleh nilai C1 terlebih dahulu harus diketahui waktu getar alami fundamental T1.

Beban geser dasar nominal V tersebut harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung menjadi beban‑beban gempa nominal statik ekuivalen Fi pada pusat massa lantai tingkat ke‑i menurut persamaan:

                   (2)

di mana Wi adalah berat lantai tingkat ke‑i termasuk beban hidup yang sesuai, zi adalah ketinggian lantai tingkat ke‑i , sedangkan n adalah nomor lantai tingkat paling atas.

Gambar 1

Struktur gedung yang mengalami beban gempa nominal statik ekivalen Fi dan simpangan sebesar d.

Langkah-langkah Penggunaan SAP 2000 V.7.42 untuk Melakukan Analisis Statik Ekivalen.

Secara garis besar, langkah-langkah penggunaan SAP2000 untuk melakukan analisis statik ekivalen adalah sebagai berikut:

  1. Menggambarkan geometri struktur, mendefinisikan penampang, material dan besarannya, serta melakukan “assign” penampang dan material tersebut pada program SAP2000.
  2. Menentukan Wi (berat lantai tingkat ke-i) dengan kombinasi pembebanan = DL + LLR (umumya diambil LLR = 0,3 LL). Supaya mudah membaca output Wi pada show group joint force sum akibat kombinasi pembebanan DL + 0,3 LL sebaiknya dibuat group name untuk frame dan joint pada setiap tingkat.
  3. Menginput massa tiap tingkat (mi) dengan menggunakan joint masses, dan membuat rigid floor diaphrama.
  4. Karena massa tiap tingkat telah diinput dengan menggunakan joint masses, maka definisi massa material dirubah menjadi nol, lalu dapat dilakukan analisis dinamik untuk mencari T1.
  5. Setelah T1 didapat maka dengan SNI – 1726 – 2002 akan diperoleh besarnya V (base shear) yang selanjutnya dapat dihitung Fi. Masukkan Fi sebagai beban gempa (assign joint static load force global x).
  6. Langkah terakhir dapat dilakukan analisis statik biasa dan sekaligus dapat mendesain struktur gedungnya, apakah dengan struktur beton bertulang atau dengan struktur baja.

Model Struktur Gedung 2-Dimensi

Contoh model struktur gedung dapat dilihat pada gambar 2. Gedung tersebut menggunakan 2 jenis penampang kolom persegi yaitu; 350 x 450 (mm) dan 450 x 550 (mm), serta 2 jenis penampang balok persegi yaitu; 300 x 500 (mm) dan 400 x 600 (mm) seperti pada gambar 2. Tinggi tiap lantai dan jarak tiap kolom yang tertera pada gambar 2 menggunakan satuan meter.

Gedung tersebut direncanakan di Bandung dengan kondisi kekerasan tanah adalah sedang. Struktur yang digunakan adalah struktur beton bertulang dengan modulus elastisitas E = 3 ×109 kg / m2 (ambil υ = 0,18 dan γ = 2400 kg / m3), kuat tekan beton f’c = 35 Mpa. Tulangan yang digunakan D22 untuk tulangan memanjang dan Ø8 untuk tulangan geser. Design dilakukan menurut ACI 318 – 99.

Beban yang bekerja pada gedung tersebut adalah seperti yang tertera pada gambar 3. Berat sendiri frame belum termasuk dalam beban mati tersebut.

Gambar 2

Contoh model struktur gedung 4 lantai

Beban Mati / DL Beban Hidup / LL

Gambar 3

Beban mati dan beban hidup

Contoh Langkah-langkah Analisis Statik Ekivalen dengan menggunakan SAP 2000 V.7.42.

Langkah paling awal sebelum melakukan analisis adalah menggambarkan geometri struktur pada program SAP2000. Dilanjutkan dengan mendefinisikan penampang, material dan besarannya, serta melakukan “assign” penampang dan material. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Buatlah satuan dalam kgf-m, pada New Model from Template, pilihlah icon portal 2 dimensi dan ketiklah pada kotak isian Portal Frame sebagai berikut;

Number of Stories   = 4

Number of Bays      = 2

Story Height                       = 3

Bay Width              = 5

Kotak isian restrains dan gridline di beri tanda v (checked)

  1. Rubahlah peletakan atau tumpuan menjadi jepit dengan cara Assign Joint Restraint, lalu pilihlah icon tumpuan jepit.
  2. Hilangkan gambar pandangan 3D sehingga diperoleh gambar pandangan 2D (X-Z Plane @ Y = 0) yang lebih besar.
  3. Pada menu Draw, pilihlah Edit Grid, dan pada kotak Modify Grid Line, rubahlah X location dan Z location secara berurutan dari atas ke bawah sebagai berikut;
X Z
-5 0
0 3.5
8 6.5
9.5
12.5

Berilah tanda v pada kotak Lock Gridlines dan Glue Joints to Grid Lines, lalu OK.

  1. Pada Material Property Data ketikkanlah definisi material beton yang akan digunakan untuk analisis sebagai berikut;
  • Mass per unit volume     = 0
  • Weight per unit volume = 2400
  • Modulus of Elasticity     = 3.0E+9
  • Poisson’s Ratio                         = 0,18
  1. Rubahlah satuan dalam N-mm, kemudian sekali lagi pada Material Property Data di bagian Design Property Data rubahlah fc = 35 MPa
  2. Rubah lagi satuan dalam Kgf-m, pada menu Define Frame Sections, pilihlah Add Rectangular, lalu berilah isian untuk balok bagian kiri sebagai berikut;

Section Name         : BALOKKI

Material Name        : CONC

Depth(t3)                : 0.50

Width(t2)                : 0.30

Reinforcement        : pada element class berilah tanda pada bagian beam dan isilah nilai concrete cover untuk top = 0,05 dan untuk bottom = 0,05 juga.

  1. Lakukan hal yang sama untuk balok bagian kanan (BALOKKA), kolom bagian atas (KOLOMA), dan kolom bagian bawah (KOLOMB). Pada kolom, berilah isian Reinforcement Data sebagai berikut:

Element Class = column

Config. of Reinforc. = Rectangular

Cover to Rebar Center = 0,045

Number of Bars in 3-dir = 3

Number of Bars in 2-dir = 3

Area of One Bars = 0,0003799

  1. Pilihlah (select) frame yang akan di ‘assign’, kemudian dari menu Assign/Frame/Section sesuaikan dengan definisi penampang yang telah dibuat sebelumnya.

Setelah langkah 4.a selesai dilakukan, langkah selanjutnya adalah langkah 4.b yaitu menentukan berat lantai tingkat ke-i (Wi) dengan kombinasi pembebanan = DL + 0,3 LL. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Definisikan static load cases. Berilah tiga jenis pembebanan sebagai berikut:
  • Beban Mati → MATI (Berat sendiri diperhitungkan oleh SAP 2000)
  • Beban Hidup → HIDUP
  • Beban Gempa → GEMPA
  1. Pilihlah (select) frame paling atas (lantai 4). Pada menu Assign / Frame Static Loads / Point and Uniform, inputlah beban mati merata sebesar 600 kg/m, lalu tekan OK.
  2. Pilihlah frame lantai 3, lantai 2 dan lantai 1. Pada menu Assign / Frame Static Loads / Point and Uniform, inputlah beban mati merata sebesar 900 kg/m, seperti gambar berikut ini, lalu tekan OK.
  3. Lakukan dengan cara yang sama untuk beban hidup. Untuk melihat beban-beban yang bekerja pada frame dapat dilakukan dengan cara Display/Show Loads/Frame
  4. Menentukan kombinasi pembebanan pada Define/Load Combinations, seperti  berikut ini:
  • Load Combination Name = Comb1
  • Title = DL + 0.3LL
  • Untuk HIDUP, scale factor = 0,3
  • Untuk MATI, scale factor = 1
  1. Menentukan kelompok-kelompok berat tingkat yang akan dihitung, sebagai berikut :
  2. TK4→ kelompok berat tingkat lantai 4, terdiri dari 3 frame kolom (F4) dan 3 joint (J4)
  3. TK3→ kelompok berat tingkat lantai 3, terdiri dari 3 frame kolom (F3) dan 3 joint (J3)
  4. TK2→ kelompok berat tingkat lantai 2, terdiri dari 3 frame kolom (F2) dan 3 joint (J2)
  5. TK1→ kelompok berat tingkat lantai 1, terdiri dari 3 frame kolom (F1) dan 3 joint (J1)

Cara menginputnya: Pilih frame dan joint yang akan dikelompokkan, Assign/Group Name/Beri Nama/Add.

  1. Set option pada analyze dirubah menjadi 2 dimensi (gambar icon portal), lalu Run.

Setelah di “run”, output berat tingkat dapat dilihat dengan cara Display / Group Joint Force Summation…., dan hasil angkanya pada  baris Comb1 terlihat sebagai berikut:

Nama Grup

TK4

TK3

TK2

TK1

Nilai F-z

20731.684

46923.369

75059.385

104086.555

Setelah diperoleh data output berat tingkat (Wi = DL + 0.3 LL), maka data tersebut dapat diolah menjadi massa tingkat (mi). Angka dari nilai F-z pada data output tersebut adalah kumulstif dari tingkat teratas hingga ke lanatai dasar. Sehingga berat tingkat lantai ke-i (Wi) adalah sebagai berikut;

W4 = 20731.65

W3 =   46923.369 –   20731.65 = 26191.72

W2 =   75059.385 – 46923.369 = 28136.02

W1 = 104086.555 – 75059.385 = 29027.17

Selanjutnya, masing-masing berat tingkat tersebut dirubah menjadi massa tingkat dengan cara membagi berat tingkat dengan berat gravitasi (g = 9.81 m / det2)

m4 = 20731.65 / 9.81 = 2113.3

m3 = 26191.72 / 9.81 = 2669.9

m2 = 28136.02 / 9.81 = 2868.1

m1 = 29027.17 / 9.81 = 2958.9

Untuk memudahkan perhitungan, data-data output berat tingkat ditabelkan sebagai berikut;

Tingkat Output SAP

(kg / m3)

Wi

(kg / m3)

Mi

(kg det2 / m2)

(input ke joint masses)

4 20731.648 20731.65 2113.31
3 46923.369 26191.72 2669.90
2 75059.385 28136.02 2868.09
1 104086.555 29027.17 2958.94
ΣWt = 104086.6

Langkah 4c, yaitu menginput massa tiap tingkat (mi) dengan menggunakan joint masses, dan membuat rigid floor diaphrama. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Massa tiap-tiap tingkat yang telah diketahui diinput pada SAP 2000 dengan cara : Select Joint (pilih joint dari tingkat 4 di ujung paling kiri) Assign / Joint / Masses, lalu isilah nilai massa tingkat pada direction 1 (searah sumbu global x). Lakukan dengan cara yang sama untuk tingkat 3 hingga tingkat 1.
  2. Pada saat gempa terjadi pelat lantai diasumsikan tidak berdeformasi secara terpisah dan merupakan satu-kesatuan (bergerak ke kiri dan ke kanan secara bersama-sama), sehingga pada frame balok perlu dirubah menjadi rigid floor diaphrama (gaya aksial balok = 0 → tidak mengalami tarik maupun tekan), dengan cara: Select joint (pilih seluruh joint yang ada di tingkat 4)→Assign / Joint / Constraint / Add Diaphrama lalu beri nama TK4→OK. Lakukan dengan cara yang sama untuk tingkat 3, 2 dan 1.

Langkah 4d adalah memastikan definisi massa material telah dirubah menjadi nol dan selanjutnya dapat dilakukan analisis dinamik untuk mencari T1. Berikut penjelasannya:

  1. Karena massa telah diinput di setiap joint paling kiri pada setiap tingkat, maka pastikan massa material telah dirubah menjadi nol, dengan cara: Define material→berilah nilai nol pada kotak isian massa→OK
  2. Set option pada analyze dirubah menjadi 2 dimensi (gambar icon portal), analisis dinamik diaktifkan dan isilah jumlah mode yang dianalisis = 4 (sesuai jumlah tingkat)
  3. Run Program
  4. Setelah di Run akan diketahui besarnya perioda mode 1 (T1) = 0,3940

Selanjutnya dilakukan langkah 4e, yaitu menghitung V dan Fi. Dengan diperolehnya T1, maka dengan SNI-1726-2003 dapat dihitung besarnya nilai V berdasarkan persamaan (1). C1 diperoleh dari Spektrum Respons Gempa Rencana pada Gambar 2 SNI-1726-2002 halaman 23 dengan mengetahui terlebih dahulu nilai T1, kondisi tanah, dan lokasi gedung akan dibangun (wilayah gempa). Dalam contoh ini gedung dibangun di wilayah gempa 4 dengan kondisi kekerasan tanah adalah sedang. Maka dengan T1 = 0,3940  akan diperoleh besarnya C1 = 0,7. Faktor Keutamaan I (Tabel 1 halaman 12 pada SNI-1726-2002) diambil sebesar 1 karena gedung tersebut berfungsi sebagai perkantoran. Faktor Reduksi R (Tabel 2 halaman 15 pada SNI-1726-2002) diambil sebesar 4 karena gedung tersebut dianggap memiliki taraf kinerja daktail parsial. Sehingga akan diperoleh:

Perhitungan besarnya beban gempa nominal statik ekivalen tiap tingkat ditabelkan sebagai berikut sesuai persamaan (2):

Tingkat Wi Hi WiHi Fi (kg)
4 20731,65 12,5 259145,6 5956.7
3 26191,72 9,5 248821,4 5719.4
2 28136,02 6,5 182884,1 4203.8
1 29027,17 3,5 101595,1 2335.3
Wt   =    104086.6 ΣWiHi  = 792446,2
V = 18215,2

Keterangan:

Setelah besarnya beban gempa nominal statik ekivalen pada tiap tingkat (Fi) dapat dilakukan analisis statik biasa dengan menganggap Fi sebagai beban horizontal, dan sekaligus dapat mendesain struktur gedungnya, apakah dengan struktur beton bertulang atau dengan struktur baja. Dalam contoh ini, model struktur menggunakan struktur beton bertulang. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Input Fi sebagai beban gempa dengan cara: Select joint (pilih joint yang paling kiri di tingkat 4) → joint static load → force → cari load case name ‘GEMPA→berilah nilai F4 pada isian force global x. Lakukan dengan cara yang sama untuk lantai 3,2, dan 1.
  2. Pastikan metode ACI yang digunakan SAP 2000 adalah ACI 318-99 dengan cara: Option → Preferences → Concrete
  3. Kemudian hapuslah kombinasi pembebanan yang semula  comb1 (DL + 0,3 LL) diganti dengan kombinasi pembebanan yang disediakan SAP 2000, dengan cara: Define → Load Combinations → Delete Combo
  4. Design → Select Design Combo (ada 6 kombinasi pembebanan sesuai ACI 318-99)→ OK
  5. Cek / pastikan lagi di Define → Load Combinations, adanya keenam kombinasi pembebanan tersebut
  6. Run Program
  7. Tampilkan luas tulangan memanjang dan tulangan geser yang dibutuhkan dengan cara tekan tombol Ctrl+F5, lalu: Design → Display Design Info

 

 

 

 

Dalam mencari  beban gempa statik lateral, dibutuhkan data berat struktur pada tiap lantainya, akan lama sekali (alias sue banget) jika anda menghitung secara manual melalui excel, ada cara yang praktis yaitu dengan menggunakan Proram SAP yang mana akan secara otomatis SAP menghitung berat kolom dan balok yang ada pada setiap lantainya, ikuti Tutorial SAP berikut ini :

  1. Pilih struktur lantai satu
  2. pilih menu Assign – Assign to Group (lihat gambar)
  3. Akan Tampil Kotak dialog seperti ini, lalu klik Add , ganti nama GROUP1 menjadi lantai1 – ok
  4. Setelah itu, pilih struktur balok dan kolom lantai 2, bar kui terus ulangi langkah 2 sampai 3 untuk lantai-lantai yang lain
  5. Lalu pilih menu file – export – Sap 2000 ms Excel Spreadsheet (maksute filenya di export ke excel gitu loh..), maka akan tampil seperti gambar dibawah ini, lalu aktifkan cek list pada Group 3 Masses and Weight
  6. Nek kowe banar, akan tampil tampilan seperti di bawah ini, beratnya sing tak bunderi pake warna merah, he3….

Selesai deh… selamat mencoba

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.3.9 Analisa Gempa dengan Response Spektrum

Sumber: Anil K. Chopra (1995) p.604

Chimney beton bertulang tinggi 600 ft, penampangnya silinder berongga
diameter luar 50 ft dan tebal dinding 2 ft 6 in. Untuk analisa terhadap gempa
struktur tersebut diidealisasikan sebagai kantilever yang teijepit pada
dasamya, di mana massa dan kekakuannya dihitung dari penampang bnito
beton tanpa tulangan baja. Modulus elastik beton Ec=3600 ksi dan berat
jenisnya 150 lb/fr. Rasio redaman modal kira-kira sebesar 5%. Tentukan
perpindahan, gaya geser, dan bending momen terhadap gempa yang diwakili

response spektrum rencana yang diskalakan kc akselerasi puncak tanah 0.5g,
di mana g=32.2 ft/sec2. Abaikan deformasi geser dan incrsia rotasi.

Solusi manual periods gciar alanii dan Chopra:

  • Propcrti slruktur chimney

32.2

EI = (3600 • 144)i[254 – 22.54 ]= 5.469 • I010 kip – ft2

  • Fcnodc gctar alami struktur

Menggunakan rumus untuk strukhir kanti lever sebagai berikui.

Solusi komputer mencari T„. dengan langkah penyelesaian berikut:

  1. Tctapkan unit satuan dalum kips-ft.
  2. Gunakan template Portal Frame (Number of Stories = 1; Number of
    Bays = 2; Storey Height = 600; Bay Width = 100). Sclanjutnya kolom
    pada sumbu (0,0) dipertahankan sedangkan element yang lain dihapus.
  3. N’odal tumpuan di bagian bawah diganti jepit (semua d.o.f di-restraint).
  4. Agar dapat mcnghasilkan 4 mode-shape, minimal harus ada 4 nodal
    bebas alau empat element untuk struktur kantilever. Untuk mem per-
    il hatkan perbedaan kctclitian, akan dianalisa dua model, yaitu model
    dengan 4 element dan model dengan 40 clement.
  5. Gunakan fasilitas Select – Select – All dan Edit – Divide Frames –
    Divide into = 4 untuk model pertama dan 40 untuk model yang kedua.
  6. Agar penomorannya berurutan kembali. dilakukan penomoran ulang
    mclalui menu perintah Ctrl+A (Sclcct – Select – All) kemudian Edit –

Change Labels, dan pada kolak dialog Relabels Selected Items pastikan
item Next Number (Joint/Frames) = 1 dan klik tombol OK.

  1. Ubah unit saluan kc lb – ft.
  2. Hitung massa struktur chimney.

. w 150 lb/ft3 ,,<0,.. j .Aj

Mass per unit Volume – —»    • = 4.6584 lb-sec /ft

g 32.2 ft/sec

Kemudian isikan data tersebut melalui Define – Materials – OTHF.R –
Modify/Show Material dan ubah Mass per unit Volume – 4.6584.

  1. Ubah unit satuan ke kips – In.
  2. Ulangi Define – Materials – OTHER – Modify/Show Material dan ubah
    Modulus F.lastlcity D 3600. kecuali data massa, maka data yang lam
    diubah menjadi nol (dinonakrifkan).
  3. Ubah unit satuan ke kips – ft. Isi properti penampang. melalui Define –
    Frame Sections – Add Pipe, dan isi parameter berikut:
  • Material OTHER
  • Outside diameter (13) – 50
  • Wall thickness (tw) = 2.5

Untuk menghilangkan pengaruh deformasi geser dan inertia rolasi. masih
pada kotak dialog di atas. klik tombol Modification Factors dan isikan
nilai nol pada parameter penampang berikut:

  • Torsional constant
  • Moment of inertia about 2-axis
  • Shear area in 2-direction
  • Shear area tn 3-direction

Selanjutnya beri nama P dan nyatakan ke model struktur melalui menu
perintah Ctrl kemudian Assign – Frame – Sections P.
12. Oleh karena ada data properti yang dibuat nol, maka d.o.f yang akan
dianalis program harus disesuaikan agar lidak teijadi ketidakstabilan
struktur. Untuk itu gunakan menu perintah Analyze – Set Options dan

  1. Oleh karena ada data properti yang dibuat no!, maka d.o.f yang akan
    dianalis program harus disesuaikan agar tidak teijadi ketidakstabilan
    struktur. Untuk itu gunakan menu perintah Analyze – Set Options dan
    aktiftcan d.o.f ux dan ry (yang lain off).
  2. Pada kotak dialog Analysis Options, aktifkan cation Dynamic Analysis,
    klik tombol Set Dynamic Parameters, isi Number of Modes = 4.
    (‘atatan: jumlah mode mcncntukan Modal Load Participation Ratios.
    Jika nilainya < 90% berarti perlu jumlah mode yang lebih banyak.
  3. Tahap ini jika di-RLIN. maka perhitungan periode getar alami diperoleh.

Solusi komputer dalam analiste response spektrum gempa:

Oleh karena hasilnya mendekati penyelesaian eksak, maka selanjutnya
dipakai model diskrit 40 element untuk analisa response spektrum gempa
chimney. Tahapan-tahapan yang pcrlu dilakukan adalah:

  1. Past ik an unit satuan dalam kips-ft.
  2. Teijermahkan response spektrum rencana menjadi data komputer. Dari
    hasil analisis, diketahui bahwa periodc gctar paling lama adalah T| =
    3.63 sec. Jadi, data response spektrum rencana dari 0 – 4 sec harus detail
    sehingga hasilnya nanti dapat teliti. Untuk itu digunakan program Excel
    dengan memasukkan rumusan yang ada. Maka dapat diperoleh data
    hubungan T. (perioda getar) – S,/g scbagai berikut.

nama response.txt. Tcmpatkan pada direktori yang sama dengan input
data dari model 40 element yang telah dianalisis scbclumnya.

  1. Menggabungkan data response spektrum ke dalam data scbclumnya.
    yaitu model chimney dengan 40 element diskrit. Apabila data tersebut
    barn saja di-RUN. ubah terlebih dahulu kondisi toolbar Lock/Unlock
    Model agar gambar kuncinya dalam kondisi tcrbuka. Sclanjutnya
    digunakan menu perintah Define – Rcponsc Spectrum Function – Add
    Function from File – Open File. Kemudian dari kotak dialog Pick
    Function Data File, sesuaikan dulu Files of type, yaitu Text Files (*.txt)
    schingga file response.txt dapat ditampilkan dan dapat dipilih. Lalu klik
    Open, bcri nama data, yaitu pada item Function Name = CHOPRA.
    Jangan lupa option Period and Acceleration Values diaktifkan sehingga
    tampilan hasilnya sebagai berikut.

 

 

 

Mcskipun data sudah masuk scbagai data
dalam program, tctapi bclum akan diproscs
oleh program. Untuk mengaktifkannya. pcrlu
didefinisikan terlebih dahulu melalui menu
perintah Define – Response Spectrum Cases
– Add New Spectra schingga akan ditam-
pilkan kotak dialog Response Spectrum Case
Data seperti gambar di samping.

Isi Damping = 0.05, lalu pilih Input Response
Spectra pada U1 direction, yaitu CHOPRA dan
isi Scale Factor dengan 0.25 g. di mana g »
32.2 IVsec\

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s